PAMAN DERMAWAN



Oleh : L. Heni Susilowati

Bentuk roti-roti Paman Pablo seperti badan sang pemilik nama. Besar-besar. Mantap. Pas untuk orang yang banyak makan. Harganya pun mahal. Lebih-lebih bila mereka membeli dengan uang saunya sendiri. Bibi Pablo menyarankan Paman Pablo untuk membuat roti dengan ukuran kecil juga. Namun, Paman Pablo keras kepala. Bila sudah membuat keputusan, tidak ada yang bisa menggoyahkannya. Itulah sebabnya sejak toko rotinya dibuka, hanya roti besar-lah yang memenuhi toko miliknya.
“Seperti ini saja sudah laris, mengapa mesti membuat yang lain? Lagi pula, aku hanya mau berurusan dengan orang kaya,” begitu katanya.
Begitulah, toko roti Paman Pablo terkenal dengan roti yang besar yang lezat. Sayangnya, tidak semua orang mampu membelinya.
Suatu hari, hari masih pagi saat toko dibuka. Di depan pintu toko roti, berdiri seorang anak perempuan. Kurus, berbaju lusuh, berambut merah, dan berkulit gelap.
“Mau apa?!” Paman Pablo mengira anak itu peminta-minta.
“Beli roti, satu, Paman,” sahut anak itu dengan takut.
Paman Pablo tidak senang mendengar jawaban tersebut.
Satu. Astaga! Pelanggan toko rotinya belum pernah ada yang hanya membeli satu potong.
“Tapi dia beli, bukan minta,” usik hati kecil Paman Pablo.
Maka Paman Pablo membiarkan anak itu masuk.
Setelah mengambil sebuah roti, anak tersebut memasukkan tangan ke saku, dan mengeluarkan segenggam uang. Uang logam. Dengan nilai terkecil.
Anak itu menghitung uang logam tersebut satu demi satu di meja kasir.
Paman Pablo memperhatikan gerakan tangan anak itu. Tiba-tiba sebuah perasaan sedih menyelinap kedalam hati Paman Pablo.
Uang logam kecil-kecil. Teringat olehnya saat ia masih kecil dulu. Hidupnya susah. Ia mesti bekerja untuk mendapatkan upah yang tak seberapa. Kemiskinan membuatnya bertekad menjadi orang kaya. Dan sekarang, saat sudah berhasil, mengapa ia melupakan anak-anak yang tak beruntung seperti dia dulu ?
“Kamu tak perlu membayarnya.” Mata Paman Pablo berkaca-kaca.
Ia lalu mengambil sebuah dus, mengisinya dengan setengah lusin roti, dan memberikannya pada anak perempuan itu.
“Siapa namamu?”
“Tatia, Paman,”
“Masih sekolah?”
“Ya, Paman.”
“Sekolah yang rajin, Tatia. Supaya kelak kamu bisa memiliki toko roti seperti Paman.”
“Terima kasih Paman. Saya selalu juara kelas,” ucap Tatia dengan wajah berseri.
Setelah menyuruh Tatia pergi, Paman Pablo menyuruh karyawannya membuat roti dengan ukuran kecil. Kini, semua orang bisa membeli roti Paman Pablo. Bahkan, tidak jarang Paman Pablo membagikan roti gratis pada anak dan orang tak mampu.
Sejak itu Paman Pablo dikenal sebagai Paman Dermawan.

Dari Majalah Bobo 17 September 2009.

PERSAHABATAN TIGA PERI PELANGI



Oleh : Rae Sita Patappa

Negeri peri yang cerah disuatu pagi. Mya keluar dari rumah mungilnya dengan sayap baru warna pelangi. Sayap itu baru saja diberikan Bunda Peri saat Mya dan kedua temannya, Kya dan Gya, lulus ujian menjadi peri cilik. Ketika diminta memilih sayap seperti apa, Mya, Kya dan Gya kompak memilih sayap pelangi.
Selama ini belum ada peri yang memiliki sayap seperti mereka. Mya membayangkan kekompakan persahabatan mereka akan jadi pembicaraan di seluruh negeri itu. Tiga sekawan peri dengan sayap pelangi yang sama! Wah, betapa bangganya Mya.
Sambil berlari-lari kecil, Mya berangkat menuju rumah Gya dan Kya. Sebetulnya dengan terbang, perjalanannya akan lebih cepat. Tapi ia ingin memakai sayap itu nanti, saat terbang pertama kali bersama kedua temannya.
Saat melewati jalan setapak berkerikil, Mya tersandung. Sebuah ranting pohon menusuk sayapnya. Tapi Mya segera berdiri kembali dan meneruskan perjalanannya dengan riang.
Mya bertemu kedua temannya di rumah Kya. Kya terlihat sangat manis. Rambutnya pirang keemasan dikuncir dua dengan pita beraneka warna. Sementara rambut merah Gya diberi bando kain yang juga berwarna-warni. Rambut pendek hitam Mya sendiri dipenuhi jepit warna-warni. Kostum mereka sudah kompak dengan warna-warni pelangi.
“Aku menyimpan sayapku hati-hati dalam peti berlapis beludru,” kata Kya.
“Aku juga. Kata Bunda Peri, jika sayap ini rusak sedikit saja, akan sangat berbahaya jika dibawa terbang. Dan perbaikkannya akan butuh waktu sangat lama,” ujar Gya.
Deg! Mya terkejut. Oh ya! Kemarin Bunda Peri berpesan begitu pada mereka. Tapi… baru saja sayapnya tertusuk ranting. Apakah itu berbahaya? Pikir Mya dalam hati.
Ah, tapi kan Cuma tertusuk sedikit, pikir Mya. Lagipula, sebentar lagi mereka harus ke istana peri. Di halama istana, peri-peri cilik yang baru dilantik harus memperagakan kemahiran terbang mereka di depan peri-peri undangan. Mereka bertiga ingin memamerkan kemahiran terbang bersama.
“Lihat! Kita kompak sekali ya dengan sayap pelangi ini,” seru Gya.
“Tidak ada yang seperti kita!” Kya melompat-lompat senang.
Mya tertawa. Ah, ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan kerusakkan sayap. Itu akan merusak kebahagiaan temannya. Lagipula kalau ia berganti sayap sekarang, bisa-bisa dianggap tidak kompak.
Halaman istana telah dipenuhi peri-peri undangan dari seluruh pelosok negeri. Semua ingin menyaksikan kehebatan para peri baru. Mereka tampak mengagumi kostum serta sayap Mya, Gya, dan Kya.
Para peri cilik baru mulai menampilkan keahlian terbang mereka. Ada peri yang terbang sangat cepat hingga terlihat seperti menghilang. Ada juga peri yang menciptakan hujan bintang di halaman istana.
Tiba giliran Mya, Gya dan Kya. Mereka terbang dari tiga arah. Sayap-sayap pelangi mereka memancarkan warna-warni yang berkilau. Mereka berencana memadukan pasir, air dan api, untuk membuat sebuah istana mini. Pada akhir pertunjukkan nanti, istana mini mereka akan diberi warna pelangi.
Gya mengendalikan pasir. Kya mengendalikan air. Sementara Mya mengendalikan api.
Gya terbang sambil mengeluarkan pasir putih dalam jumlah yang sangat banyak. Halaman istana peri selah dipayungi pasir putih. Kemudian Kya membentuk sebuah mangkuk raksasa dari air. Gya menjatuhkan semua pasir putihnya kedalam mangkuk air ciptaan Kya. Kya membungkus semua pasir putih itu, hingga membentuk bola pasir putih raksasa yang berkulit air. Semua penonton bersorak kagum, saat perlahan pasir putih dan air menyatu dan berubah menjadi sebuah istana mini. Gya dan Kya mempertahankan bentuk istana itu sambil menunggu Mya beraksi.
Kini tiba giliran Mya. Ia akan membakar istana itu agar menjadi kokoh. Dari kejauhan Mya menciptakan dinding api raksasa. Kini ia bersiap-siap terbang ke atas dinding api. Mya melesat cepat. Namun tiba-tiba sayapnya tak bisa terkendali. Mya terus melesat lurus ke arah api. Padahal seharusnya ia menukik ke atas dan mengendalikan api itu dari atas. Mya menoleh pada Gya dan Kya yang masih menjaga istana mini mereka. Panas api mulai terasa.
Mya berdoa dalam hati sambil memejamkan mata. Sesaat kemudian tubuhnya terasa sangat panas dan membentur sebuah benda sangat keras. Mya merasa tubuhnya terlempar sangat jauh.
Ketika membuka mata. Mya berada di atas tumpukan pasir putih yang basah. Tubuhnya terasa sakit tapi tapi tak ada bagian tubuhnya yang terbakar.
“Mya? Bagaimana keadaanmu?” tanya Kya dan Gya serentak, panik.
Mya menatap kedua temannya dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa tidak bilang kalau sayapmu rusak? Seharusnya di awal tadi, sayapmu diganti dulu,” ujar Gya.
Mya menunduk. “Aku takut kalau tidak terlihat kompak.”
Kya tersenyum sambil membantu Mya berdiri. “Kita tidak perlu memakai barang yang sama untuk membuktikan kita sahabat.”
Mya memeluk kedua temannya. Benar sekali. Kedua temannya sudah membuktikan bahwa mereka adalah sahabat sejati dengan menolongnya disaat-saat sulit. Istana pasir yang telah terbentuk dengan susah payah oleh Gya dan Kya, kini hancur demi untuk melindungi Mya.
“Pelangi saja terbentuk dari beragam warna, dan tetap indah, kan?” tambah Gya sambil merangkul Mya.
Sesat kemudian, seluruh penonton istana peri memberi tepuk tangan meriah. Mereka mengira pertunjukkan menegangkan itu memang disengaja oleh Mya, Kya, dan Gya. Ketiga sahabat itu tersenyum bahagia.

(Dari majalah Bobo edisi 24 Januari 2008)

Si Pengeluh


Di pinggir sebuah sungai, tinggalah seekor kra-kura besar. Tubuhnya kekar dengan tempurung yang kuat perkasa. Sesungguhnya, nama asli kura-kura adalah si Hitam Besar. Namun,karena dia terlalu sering berkeluh kesah,hewan-hewan yang mengenalnya kemudian menjulukinya si Pengeluh.
Kura-kura senantiasa mengeluhkan kondisi dirinya pada apa yang dilihat atau ditemuinya. Dia merasa segala yang ada pada dirinya hanyalah sia-sia belaka. Dia merasa tidak mempunyai kelebihan. Oleh karenanya, kura-kura selalu iri melihat kelebihan yang dimiliki oleh hewan-hewan lainnya.
Jika bertemu dengan ikan-ikan yang menghuni sungai itu,pasti dia mengungkapkan keluhan.
“Kalian memang hewan-hewan yang beruntung. Demikian banyak kelebihan yang kalian miliki. Kalian dapat berenang dengan gesit. Berbeda dengan diriku yang sangat lambat ketikaa berenang.”
Tidak jarang kawanan ikan sering menghiburnya.
“Tetapi kami tidak dapat hidup di darat. Hidup kami hanya di air. Meskipun tidak selincah kami ketika berenang,kamu mempunyai kelebihan yang tidak kami miliki. Kamu dapat hidup di darat. Sungguh beruntung kamu dapat menjejakkan kaki di tanah !”
Meskipun begitu, kura-kura etap menganggap dirinya tidak seberuntung kawanan ikan. Dan dia terus saja mengeluh.
Begitu juga ketika bertemu dengan kepiting, kura-kura masihmengeluh.
“Kamu hewan yang beruntung. Meskipun tubuhmu kecil,gerakanmu sangat gesit. Apalagi kamu mempunyai capit-capit tajam. Siapapun akan berpikir dua kali jika mengganggumu. Berbeda sekali dengan diriku yang tidak mempunyai senjata apapun.”
“Kamu mempunyai tempurung yang keras laksana batu !” tukas kepiting menghibur. “Tubuhmu aman dibalik tempurung itu. Seandainya sebuah batu menggelinding mengenai dirimu,tak akan dapat melukai tubuhmu ! Bayangkan, jika batu itu mengenai diriku ! Apakah mungkin capit-capit ini dapat melindungi tubuhku ?”
Meskipun demikian,kura-kura tetap merasa dirinya tidak seberuntung kepiting. Kelebihan tempurung keras bukan sesuatu yang istimewa baginya.
Apa yang diucapkan kura-kura ketika berjumpa burung branjangan ? keluh kesahnya begitu mengemuka hingga dia seperti hewan yang teramat malang di dunia !
“Sungguh beruntung hidupmu, burung branjangan ! Terbangmu begitu cepat bagaikan angin. Kamu bebas pergi kemanapun dalam waktu singkat. Sungguh malang nasibku. Berenang di air lambat, berjalan di darat juga lambat ! tak mungkin pula aku dapat mengangkasa seperti dirimu ! Tak dapat diriku melihat negeri-negeri yang indah seperti diimu !”
Sesungguhnya,burung branjangan telah berkali-kali mendengar keluhan kura-kura. Namun,berkali-kali pula dia menghibur dan menasihatinya.
“Aku memang dapat terbang secepat angin,namun aku tidak dapat berenang ! Lihatlah dirimu. Kelebihanmu berenang kadang sempat membuatku iri ! Aku ingin sekali dapat berenang sepertimu. Tetapi, karena Tuhan telah menciptakan diriku seperti ini,kuterima dengan rasa syukur. Hendaknya,kamu juga bersyukur karena tak ada kesia-siaan sedikitpun dalam penciptaan-Nya !”
Apapu yang dinasihatkan kepadanya,kura-kura tetap saja merasa dirinya tidak seberuntung hewa-hewan lain. Dia tetap merasa tidak mempunyai kelebihan. Itu membuat wajahnya selalu terlihat murung. Dalam benaknya,tergambar perasaan iri ada ikan yang gesit berenang. Kepiting yang mempunyai senjata andalan, atau pada burung branjangan yang dapat terbang bebas laksana angin. Jika kura-kura telah mengeluh,hewan-hewan yang didekatnya akan segera pergi. Mereka bosan mendengar keluh kesah kura-kura.
Suatu ketika,terjadilah kemarau panjang yang menyebabkan air sungai menjadi surut dan menyusut. Dasar sungai menjadi terlihat. Kawanan ikan masih dapat hidup di cekungan sungai yang masih menyisakan sedikit air. Namun, malang bagi keluarga ikan Sepat. Ketiga anak mereka terjebak di cekungan lain di sungai itu hingga tak bisa lagi berkumpul dengan mereka.
“Apa yang harus kita lakukan ?” Induk Sepat terlihat cemas. Matanya berulang-ulang mengedar mencari,namun ketiga anaknya tak juga berada didekatnya. “Dimana anak-anak kita ? tak mungkin kita mencarinya karena air sungai semakin sedikit !”
“Kita berdo’a saja semoga Tuhan segera menurunkan hujan sehingga air sungai kembali berlimpah. Dengan begitu, kita dapat mencari ketiga anak kita.”
Kata-kata suaminya masih membuat induk sepat cemas dan panik. Mendadak, dia teringat pada kura-kura. Barangkali kura-kura dapat menolongnya. Maka dia berteriak keras-keras memanggil.
Kura-kura yang tengah berlindung di balik pohon talas mendengar panggilan Induk Sepat. Dengan gerak perlahan. Kura-kura mendatangi suara yang memanggilnya.
“Ada apa kamu memanggil,Induk Sepat ?”
“Kura-kura,maukah kamu menolongku ?” ujar Induk Sepat penuh pengharapan. “Ketiga anakku terpisah dariku. Entah di mana mereka berada kini ! Tolonglah aku. Kura-kura yang baik. Tolong,temukan mereka !”
Melihat kecemasan Induk Sepat,kura-kura merasa iba. Dia menyanggupi mencari ketiga sepat itu. Dia segera bergerak secepat yang dia mampu. Setiap cekungan dilihat dan diperiksanya. Akhirnya,ketiga anak sepat itu ditemukannya di satu cekungan yang sebenarnya tak jauh dari induknya. Ketiga anak sepat itu menangis ketakutan terpisah dari kedua orangtuanya.
“Apa akalku untuk membawa ketigga anak sepat ini ?” kata Kura-kura kebingungan.
“mengapa kamu bingung, sahabatku ?” mendadak burung branjangan bersuara.
“bukankah kamu dapat membawa ketiganya di atas tempurungmu ?”
Kura-kura menuruti saran burung branjangan. Ketiga anak sepat itu dimintanya untuk menaiki punggungnya. Ketika ketiganya telah berpegangan pada tempurungnya,kura-kura lantas berlari secepatnya menuju cekungan tempat induk sepat berada.
Betapa bahagianya induk sepat dapat bertemu kembali dengan ketiga anaknya.
“Terima kasih kura-kura.” Ujar induk sepat. “Nah,terbukti bukan ? kamu mempunyai kelebihan yang tidak kami miliki ? kamu dapat berjalan di darat dan mampu menyelamatkan anak-anakku !”
Untuk pertama kali dalam hidupnya, kura-kura merasa beruntung. Dia mempunyai kelebihanyang tidak dimiliki ikan. Rasa syukurnya mendadak timbul.
Ketika kura-kura hendak kembali ke tempat istirahatnya,tiba-tiba dilihatnya sebuah batu lumayan besar menggelinding darii bibir sungai. Betapa terkejutnya kura-kura ketika batu mengetahui batu itu mengarah pada kepiting yang berada didekatnya.
Kura-kura segera melompat. Ditutupinya tubuh kepiting. Kepala,tangan,dan kakinya cepat-cepat dimasukan ke tempurung. Jadi,ketika batu itu jatuh,tempurungnya saja yang kena.
Tempurungnya demikian keras. Karena itu, kura-kura tidak merasakan sakit sedikitpun. Sementara kepiting yang mengetahui jatuhnya batu amat terperanjat. Lalu, dia mengucapkan terima kasih pada kura-kura.
Kura-kura semakin bersyukur. Dia merasa beruntung mempunyai tempurung yang keras laksana batu. Dia juga merasa tidak pada tempatnya jika iri pada kelebihan kepiting karena kelebihannya sendiri pun demikian besar. Kura-kura merasa lega karena dapat menolong sahabatnya.
“Lihat kura-kura ! Ada manusia yang hendak memanah burung branjangan !”
Kura-kura segera melihat ke arah yang ditunjukan kepiting. Benar ! Di deka mereka,ada seorang anak yang tengah bersiap-siap menarik busur panah. Anak panahnya diarahkan pada burung branjangan yang tengah beristirahat di dahan pohn cemara.
“Apa yang dapat kita lakukan,kepiting ?” tanya kura-kura kebingungan.
“Kita harus menyelamatkan burung branjangan ! ayo,lekas ! kita capit kakinya.”
Kedua sahabat itu bergerak secepat yang mereka bisa. Kepiting lebih dulu tiba,disusul kura-kura. Sementara,anak lelaki itu tida menyadari keberadaan mereka. Matanya tetap terarah pada burung branjangan yang juga tidak menyadari bahaya yang mengancam jiwanya.
Hampir bersamaan,kedua sahabat itu menggigit kaki anak itu. Anak itu menjerit kesakitan. Lalu pergi dan menjauh dari tempat itu.
Burung branjangan terkejut mendengar jerit kesakitan si anak. Dia baru menyadari bahwa dirinya selamat dari maut ! Lalu, dia berterima kasih pada kepiting dan kura-kura.
Kura-kura tersenyum. Dia sangat bahagia. Kini, dia merasa sangat beruntung ditakdirkan sebagai kura-kura ? yang ternyata mempunyai banyak kelebihan yang tidak disadarinya selama ini. Dia sangat bersyukur kepada-Nya dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi berkeluh-kesah. Dia tak mau agi disebut si Pengeeluh ! dia telah menyadari kekeliruannya. Dengan penuh rasa syukur,dia melangkah menuju pohon talas untuk kembali beristirahat.



SANG JAGOAN
Belang adalah kucing kampung jantan yang masih muda. Badannya gagah dan kekar. Cakar-cakarnya tajam dan kuat. Gerakannya tangkas. Dia dapat memanjat pohon dengan gesit dan cepat. Dia sangat bangga kepada dirinya dan merasa paling hebat sehingga membuat teman-temannya menjadi sebal kepadanya.
“Bah, diakan kucing kampung juga seperti kita.” Kata Putih. Dia sibuk menjilati bulu-bulu putihnya hingga bersih.
“Tidak ada yang tertarik memeliharanya. Dia bringas.” Kata Hitam. Bulu-bulunya yang hitam berkilau tertimpa sinar matahari.
“Hoaammm…..” karpet Iran menguap.
“Pekerjaanya hanya mencuri dan membanggakan diri. Kalau saol warna bulu, perpaduan hitam, putih dan kuning seperti punyaku ini lebih menarik kan ? daripada campuran belang cokelat.”
“Ah, sudahlah.” Kata Hitam.
Tak lama kemudian, belang menghampiri mereka.
“Hai teman-teman. Apakah alian melihat kucing kuning kurus melintas ? telinganya luka. Aku berkelahi dengannya semalam.”
“Untuk apa ?” tanya Karpet Iran.
“untuk membuktikan bahwa aku memang jagoan.” Kata Belang menyeringai.
“Hanya seekor kucing kurus ?” Kata Putih. “Dia bukan tandinganmu.”
Belang membelalakkan mata.
“Oh ya ? kalau begitu, aku menantang salah satu diantara kalian.”
Putih, Hitam, dan Karpet Iran berpandangan.
“Ayo, siapa saja diantara kalian ! Tidak ada yang kurus, kan ?” Tantang Belang sekali lagi.
“Masalahnya……..” kata Hitam mengerling kepada Putih dan Karpet Iran.
“Kami cinta perdamaian.” Kata Karpet Iran tercetus begitu saja.
“Bukan karena kami takut kepadamu.” Tambah Putih.
Belang memandang ketiganya.
“Oh begitu, Kucing pemberani memang seharusnya tak takut kepada siapapun, seperti aku.”
“Tidak takut kucing wilayah lain ?” tanya Hitam.
Belang menggeleng.
“Pada pemilik rumah yang akan memukulmu dengan tongkat karena kamu akan mencuri lauknya?” Tanya Putih.
Belang menggeleng kuat.
“Aku tidak hanya berani, tapi juga lihai. Tongkat atau apapun bukan masalah.”
“Tidak takut kepada anjing ?” tanya Karpet Iran.
Belang menoleh cepat kepada Karpet Iran.
“Aku tidak bisa mengubah sejarah nenek moyang kita, teman. Kucing tetap takut kepada anjing, kecuali hidup bersama sejak bayi. Mengerti ?”
Ketiganya terdiam. Mereka berharap Belang lekas pergi.
Belang mengelus-elus perutnya.
“Kucing pemberani akan mencari makan. Ada yang mau sisa-sisaku ? duri ikan, mungkin ?” tanya Belang.
Ketiganya menggeleng.
“Selamat makan !” kata Hitam.
Belang meninggalkan mereka sambil berdendang.
“Dasar sombong.” Kata Karpet Iran. “Ayo kita lihat apa yang dia perbuat.”
Putih dan Hitam mengikuti. Mereka melihat Belang memasuki rumah melalui jendela. Mereka bersembunyi di balik pot besar.
“Eeeeehhhhh, kucing nakal ! Hus….hus !” teriak seorang ibu.
“Meeoong…” Terdengar suara Belang.
Brraaakkk!!
Belang menabrak jendela, lalu meloncat ke luar. Dia berlari kencang, lalu berhenti di dekat selokan. Dia menikmati ikan ceruriannya. Putih, Hitam, dan Karpet Iran terus mengikuti sambil bersembunyi.
“Heran, dia dapat juga makanan.” Kata Putih.
“Dia memang berani dan lihai.” Kata Hitam.
Belang menghampiri sebuah nampan lebar berisi udang kering yang sedang dijemur. Dia bersembunyi di bawah kursi yang digunakan untuk menopang kasur yang juga sedang dijemur di sebelah nampan. Dia mengendap-endap sambil berfikir bagaimana cara mengambil udang kering itu.
Belang tak menyadari ada seorang ibu yang mendekat untuk membersihkan debu di kasur. Dia membawa sapu lidi yang digunakan khusus untuk kasur.
Hup!
Belang meloncat.
Gubrakk!
Kursi nampan itu terjatuh.
“Heehhh! Dasar pencuri !” teriak ibu itu. Dia memukul Belang dengan sapu lidinya. “Huh, bandel !” kata ibu itu sambil terus mengibaskan sapu lidinya, meskipun Belang sudah lari tunggang-langgang menjauhinya.
“Hah ? Dia takut pada sapu lidi !” Karpet Iran terperanjat.
“Hahahaha ! Kucing jagoan takut pada sapu lidi.” Tawa Putih terpingkal-pingkal.
“Ternyata dia sama dengan kita. Dia tidak lebih berani darpiada kita.” Kata Hitam.
Mereka bertiga menghampiri Belang yang duduk sambil terengah-engah.
“Kamu perlu udara sangat banyak, sampai ngos-ngosan begitu. Fiuh…fiuh.” Kata Putih meniup-niup Belang.
“Sapu lidi itu begitu menyeramka ya ?” kata Karpet Iran.
“Bentuknya yang berbilah-bilah,ujungnya yang runcing menusuk sedikit menggelikan, dan bunyinya ….. Pyak! Pyak! Sngat mengerikan. Hiiihhh….!” Kata Hitam “Kami takut kepadanya.”
Belang sedikit lebih tenang. Nafasnya mulai teratur.
“Aku..aku takut pada sapu lidi. Yang kamu katakan tentangnya, semuanya benar. Mendengarnya dikibas-kibaskan saja, aku sudah bergidik. Aduuhh, aku malu sekali kepada kalian.” Belang mengaku. “Apakah kalian masih mau mengobrol denganku ?”
“Tentu saja, asal kamu berhenti berlagak sok jagoan.” Jawab Karpet Iran.
“Jangan sombong lagi.” Kata Putih. “Tingkah dan perkataanmu selama ini sangat menyebalkan.”
Belang mengangguk patuh.
“Baiklah. Aku tidak akan sombong dan sok jagoan lagi. Maafkan aku.” Kata Belang lirih.
Sejenak mereka terdiam.
“Kami memaafkanmu. Benarkan teman-teman ?” Tanya Hitam.
Putih dan Karpet Iran mengangguk.
“Nah, kalau begini lebih menyenangkan. Sekarang, ayo kita cari makanan di tempat sampah rumah bercat kuning itu. Pemiliknya menjual daging ayam olahan. Dia banyak membuang tulang ayam. Kadang-kadang, masih menempel.” Ajak Hitam.
“Tidak perlu mencuri ?” tanya Belang.
Putih, Hitam dan Karpet Iran menggeleng bersamaan. Mereka lalu berjalan beriringan menuju rumah tersebut. Tentunya dengan selera makan yang telah sampai di ujung lidah.

PUNG DATANG



Di tepi sebuah danau, tumbuh sebatang pohon pepaya. Di dekat pohon itu, tinggal seekor kelinci putih. Suatu hari, sebuah pepaya yang sudah matang jatuh kedalam danau dan menimbulkan bunyu ‘PUNG’ yang besar. Kelinci tersebut terkejut mendengarnya. Ia melihat sekeliling danau, namun tidak tampak apa-apa.
“Ah, PUNG ini pasti makhluk yang menakutkan,” gumam Kelinci Putih. Ia pun lari ketakutan. Kebetulan rubah melihatnya.
“Ada apa Kelinci Putih ?” tanya Rubah.
“Celaka !” kata Kelinci Putih terengah-engah. “PUNG sudah datang !”
Melihat Kelinci Putih ketakutan, Rubah mengira ‘PUNG’ adalah makhluk yang menakutkan. Ia pun ikut berlari bersama Kelinci Putih. Monyet yang berada di atas pohon,melihat mereka. Monyet segera meloncat turun dan bertanya.
“Celaka! Celaka! PUNG sudah datang !” jawab Rubah terbata-bata.
Rubah sudah sering menipu. Namun, saat itu Rubah tampak sangat ketakutan. Pastilah ‘PUNG’ itu memang menakutkan. Batin monyet. Ia pun ikut lari bersama Kelinci Putih dan Rubah.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan Kijang, Beruang, dan Harimau.
“Kenapa kalian berlari seperti ini ? Apa yang terjadi ?” Tanya Harimau.
“Celaka! Celaka! PUNG sudah datang !” jawab mereka terengah-engah.
Tanpa bertanya lebih jelas, Kijang, Beruang, dan Harimau pun ikut berlari.
Singa melihat rombongan temannya ketakutan. Ia menghadang mereka dan bertanya apa yang terjadi.
“Celaka! Celaka! PUNG sudah datang !” jawab mereka berenam terengah-engah.
“Pung? Pung itu apa? Ada di mana?” tanya Singa pada Harimau.
Harimau menjawab tidak tahu.
Singa bertanya kepada Beruang, Kijang , Rubah dan Monyet. Mereka juga tidak tahu. Akhirnya Kelinci Putih menjawab. “PUNG itu ada di danau dekat rumahku.”
Singa lalu mengajak mereka ke danau. Walau agak takut, Kelinci Putih membawa mereka ke danau di dekat rumahnya. Setiba di sana, ada sebuah pepaya yang terjatuh ke danau dan menimbulkan bunyi ‘PUNG’ besar. Mereka akhirnya tahu. Itulah ‘PUNG’ yang menakutkan itu.
“Kalau belum tahu jelas tentang suatu masalah, jangan panik dulu,” kata Singa pada mereka. Dengan mau Harimau, Kijang, Beruang, Rubah dan monyet meninggalkan tempat itu. Tentu saja setelah terlebih dahulu menghadiahkan sebuah jitakan untuk Kelinci Putih.

(Diterjemahkan oleh Djoni, dari buku Yue Liang Ma Ma)

HARIMAU DAN KUCING


Dahulu sekali, konon Harimau dan Kucing adalah kakak-adik. Mereka juga memiliki tubuh yang besar. Walaupun Harimau adalah kakak, dia jauh lebih malas dari Kucing, adiknya. Semua pekerjaan ia serahkan kepada adiknya. Kerjanya setiap hari hanya bermalas-malasan.
Suatu hari, Kucing sedang beristirahat di bawah pohon setelah bekerja seharian. Tidak lama kemudian dia tertidur. Dalam tidurnya, dia bertemu kakek berjenggot putih panjang.
“Kamu Kucing yang rajin. Saya kana memberimu dua biji kacang emas. Jika kamu mengulum kacang emas itu dalam mulutmu, maka kamu akan  memiliki kekuatan besar,” kata kakek itu.
Kucing terbangun kaget.
“Ah, rupanya cuma mimpi!” gumamnya.
Tapi ia terkejut karena disampingnya ada dua biji kacang emas. Kucing sangat gembira. Ia meletakkan sebutir kacang emas ke dalam mulutnya. Tubuhnya langsung penuh kekuatan.
Kucing segera berlari pulang dan memberikan kacang emas yang lain kepada Harimau. Harimau memasukkan kacang emas itu ke dalam mulutnya. Sebentar saja tubuhnya sudah penuh kekuatan.
Sayangnya, Harimau sangat tamak. Ia tak ingin adiknya jua memiliki kekuatan seperti dirinya. Maka dia menyuruh Tikus untuk mencuri kacang emas milik Kucing.
Suatu malam, Kucing tertidur nyenyak. Tikus mengambil sehelai rumput dan menggelitik hidung Kucing. Kucing langsung bersin-bersin. Saat itulah kacang emas yang ada dimulutnya terlempar keluar. Tikus segera mengambil kacang emas itu dan berlari pergi.
Kucing menangis sedih karena kehilangan kacang emasnya itu. Pada saat itu kakek berjenggot putih panjang muncul dihadapannya.
“Jangan bersedih!” kata kakek itu. “Sekarang aku akan mengajarimu delapan belas jurus ilmu beladiri.”
Dengan tekun Kucing mempelajari ilmu yang diajarkan kakek itu. Pada saat matahari mulai terbit, tiba-tiba kakek itu menghilang.
Akibat belajar ilmu bela diri, tubuh Kucing menjadi kecil. Tapi dia menjadi lebih lincah.
“Kucing, kenapa tubuhmu menjadi kecil?” tanya Harimau heran saat bertemu Kucing.
Kucing menceritakan semua yang telah terjadi. Mendengar hal itu, Harimau meminta Kucing mengajarkan delapan belas jurus ilmu bela diri itu padanya. Tanpa curiga Kucing menyanggupinya. Ia mulai mengajari Harimau jurus demi jurus. Harimau pun belajar dan belajar.
Harimau mengira dirinya sudah selesai mempelajari semua ilmu itu. Ia langsung menerkam ke arah Kucing. Kucing sangat terkejut. Dia segera memutar tubuhnya dan melompat pergi. Harimau segera mengejarnya. Waktu hampir terkejar, Kucing langsung meloncat ke atas pohon. Harimau tertegun. Jurus ini belum ia pelajari. Akhirnya ia hanya bisa berputar-putar di bawah pohon.
Karena itulah, sampai sekarang Harimau tidak bisa memanjat pohon.
Karena itu juga, Kucing sangat benci kepada Tikus. Sebab Tikus telah mencuri kacang emasnya. Setiap kali melihat Tikus, Kucing akan langsung menerkamnya.


WARUNG MI CO MING

Oleh : Veronica Widyastuti


Co Ming membereskan mangkuk-mangkuk bekas mi dagangannya. Ah, Co Ming dsedih sekali. Dia harus membuang lagi sisa mi yang tidak terjual.
“Tidak habis lagi, Ayah?” tanya Lui Ming.
Co Ming menghela nafas. Lui Ming tahu ayahnya sedang gelisah.
“Yah… mau bagaimana lagi,” kata Co Ming. “Beberapa hari terakhir ini, kita kalah saingan dengan penjual mi baru di ujung jalan itu. Warungnya memang baru da tempatnya lebih strategis.” Co Ming menoleh pada anaknya.
“Lui Ming, kamu kenapa? Lui Ming! Lui ming!” panggil Co Ming.
Lui Ming tersentak. “Kamu mendengarkan apa Lui Ming? Kamu tidak mendengarkan kata-kata Ayah.”
“Ayah kalau keadaan seerti ini terus, apakah kita…..apakah kita…..” Lui Ming tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
Co Ming mengerti kegelisahan anaknya. “Apakah kita akan bangkrut, maksudmu?” Lui Ming mengangguk lesu. Co Ming pun tak tahu lagi yang harus dilakukannya. Dia Cuma mengangkat bahu dan kembali membereskan sisa dagangannya.
Hari berikutnya, Lui Ming dan teman-temannya sudah berkumpul di warung mi milik Co Ming. Mereka terlihat berunding dengan seru.
“Biar aku yang membelinya!” seru Sao Chan. Dia segera berlari meninggalkan warung. Setengah jam kemudian, Sao Chan kembali dengan sebuah bungkusan. Anak-anak segera mengerumuninya.
“Hmmm… lumayan,” kata Sao Chan.
“Tapi menurutku, masih lebih enak mi buatan ayahmu, Lui Ming,” komentar Ming Tan. Anak-anak lain setuju.
“Kalau begitu, bukan masalah rasa,” kata Lui Ming.
“Bagaimana dengan pelayanannya, Sao Chan?”
“Sama saja. Bahkan, tadi aku harus menunggu lama. Ayahmu lebih cekatan, Lui Ming.”
“Anka-anak, kelihatannya prundingan kalian seru sekali. Agar pikiran lebih jernih, ayo silakan cicipi mi-nya,” kata Co Ming.
“Wah, terima kasih! Paman baik sekali!” sambut Sao Chan gembira.
“Nah, benar kan kataku?” Komentar Ming Tan beberapa saat kemudian. “Mie buatan ayah Lui Ming lebih enak.”
“Kalau begitu, kita coba strategi kita,” kata Sao Chan.
Keesokan harinya, Co Ming sedang membereskan warungnya seperti biasa. Hari itu dia tak banyak berharap warungnya akan laris. Benar saja! Sampai tengah hari, tidak sepuluh orang yang makan di warung Co Ming. Berbeda dengan warung Sa Mao di ujung jalan yang ramai pembeli.
Tapi, lewat tengah hari, Lui ming datang bersama teman-temannya. Mereka memesan mi masing-masing satu mangkuk. Warung Co Ming jadi penuh. Setelah makan, satu persatu anak itu meninggalkan warung Co Ming. Tapi, tahu-tahu mereka kembali lagi dengan baju yang berbeda. Wah, apa yang mereka lakukan, ya?
“Paman, aku pesan mi satu lagi!” seru Sao Chan.
“Aku ingin kuahnya lebih banyak, Paman!” Min Tan tak mau kalah.
Orang-orang yang melihat kehebohan warung Co Ming menjadi enasaran. Mereka ikut membeli mi di warung Co Ming. Lui Ming dan ayahnya sangat kewalahan.
“Wah, ternyata mi disini sangat enak, ya?”
“Iya. Besok aku pasti kesini lagi.”
“Kenapa tidak dari dulu kita ke sini?”
“Iya. Tempatnya juga bersih. Aku akan mengajak keluarga dan teman-temanku makan di sini lagi.”
Dalam waktu singkat, mi di warung Co Ming habis terjual.
“Hahaha… kalian cerdik, anak-anak. Hebat! Terima kasih, kalian mau peduli pada warung Paman. Sebagai hadiah, masing-masing akan mendapatkan semangkuk mi, gratis!” kata Co Ming.
“Hoooreeee!!!” sambut anak-anak gembira.
“Tunggu, Paman! Ini baru sehari. Kita harus mengatur strategi untuk besok,” kata Sao Chan. Tak lama kemudian, mereka menghadap Co Ming.
 “Sudah menemukan strategi baru, anak-anak?” tanya Co Ming.
“Tentu saja! Begini, Ayah. Setiap hari kami akan bergiliran untuk makan  di sini agar warung selalu terlihat ramai. Bukankah Ayah berjanji akan memberi semangkuk mi gratis?” jelas Lui Ming.
Co Ming pun mengangguk-angguk. “Ya…ya…aku mengerti sekarang. Wah, ide hebat!”
Seminggu berikutnya selalu ada teman Lui Ming yang makan di warung Co Ming. Mereka membuat warung itu selalu terlihat heboh dan ramai. Warung Co Ming jadi laris dan terkenal, bahkan laris dari pada warung mi Sa Mao.
“Anak-anak, kalian benar-benar hebat!” puji Co Ming ketika anak-anak berkumpul di warungnya. “Bagaimana aku harus berterima kasih pada kalian?”
“Ah, tidak perlu dipikirkan, Paman. Bagaimana dengan semangkuk mi lagi?” goda Sao Chan sambil mengedipkan mata.
Oooh… Co Ming hanya menggaruk-garuk epala, dikikuti tawa anak-anak yang menggodanya.


(Dikutip dari Majalah Bobo Edisi 6 Maret 2008)

KISAH ALICE DAN BUNDA



KISAH ALICE DAN BUNDA
Oleh : Esly

Alice dibesarkan di kota Monofi. Di kota ini, Alice hidup bersama ibunya. Ayah Alice sudah meninggal ketika Alice masih kecil.
Sekarang Alice sudah berumur 16 tahun. Wajahnya putih berseri, memancarkan kebaikan hatinya. Ya, Alice senang menolong orang-orang yang membutuhkan. Pagi ini Alice akan pergi ke rumah Bu Lili untuk memberikansekeranjang roti selai. Sebelum berangkat, Alice melilitkan pita pada rambutnya yang panjang berwarna keemasan.
“Bunda, aku berangkat!”seru Alice berpamitan pada ibunya.
Di tengah jalan, Alice melihat seorang gadis kecil gelandangan. Gadis itu merintih kesakitan sambil memegangi kaki kanannya yang luka terserempet kereta kuda. Orang-orang disekitarnya tak ada yang peduli, dan melihat gadis itu dengan jijik. Gadis itu kaget ketika ada seeorang yang mengulurkan pita biru padanya. Ternyata Alice.
“Dik, pakailah pita ini untuk menutupi lukamu. Juga supaya darahnya berhenti,” ujar Alice lembut.
Sambil mengucapkan terima kasih, gadis itu mengambil pita Alice.
“Tapi, pita ini bagus sekali. Apa tidak sayang kalau hanya untuk menutupi luka di kakiku?” gadis itu menatap pita yang ia pegang.
“Akan lebih bagus kalau pita itu bisa menolong orang lain. Iya, kan?” ujar Alice ramah. Gadis itu menatap alice dan tersenyum.
Hari menjelang siang. Alice sudah  berada di rumahnya kembali. “Bu Lili titip salam untuk Bunda. Ia seang sekali menerima selai pemberian kita. Katanya, keluarganya sering kelaparan dan tak punya uang. Untung kita mau berbagi ya, Bunda. Lagipula, kita kan punya banyak roti selai,” kata Alice, membuat ibunya tersenyum. Alice lalu berkata lagi “Tapi, Bun… aku tak pernah memberikan sesuatu untuk Bunda. Soalnya, aku tidak pernah tahu apa yang Bunda inginkan.”
Ibu Alice memeluk Alice. “Bunda punya keinginan. Dan Alice sudah memberikannya,” jawabnya. Alice tertegun.
“Apa itu?” tanya Alice. Ia tidak tahu sama sekali. Karena seingatnya, ia tak pernah memberikan apapun.
“Bunda ingin Alice bahagia dan menjadi anak yang baik,”  tutur ibunya sambil tersenyum lembut. “Dan Alice sudah memberikannya,” lanjutnya. Mendengar itu Alice terharu. Ia mendekap ibunya dengan bahagia.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images